Saturday, August 16, 2014

Bukan untuk mereka.

Dipandang sebelah mata sudah jadi soal biasa. dinomor duakanpun mungkin seharusnya sudah tidak jadi masalah. tapi entahlah kadang rasanya hati diam diam kembali retak.
Bukankah selama ini usaha dan kerja keras itu membuahkan hasil? Bukankah sebagian dari angan angan itu telah tercapai?
Lalu, mengapa hal seperti ini terulang kembali? masih sama. tawa sinis. nada mengejek.
Ragu? maaf untuk itu. Hanya saja, jujur itu menyesakkan.
Saya benar benar sadar, namun masih memilih untuk bungkam.
diam. kecewa. setidaknya tangis belum sepenuhnya buncah.


tidak berarti apa apa, karena mungkin ada yang lebih baik untuk dibanggakan.
Tujuan kedua? Bukan. orang orang akan tetap memuja dia si nomor satu dan sesekali bertanya kepada si nomor dua untuk sopan santun dan perhatian palsu belaka. miris. omong kosong.
mereka tidak benarbenar peduli.
Kalau ada yang lebih baik, masa bodoh dengan yang lain. itu kata mereka.
Jadi, untuk apa usaha mati matian lagi, toh mereka pun sepertinya tidak ingin berbalik. terus menerus mengabaikan. kadang batin mulai getir berbisik lirih. 
Bukan. bukan seperti itu.
mereka bahkan tidak pernah menjadi alasan untuk tetap bertahan seperti ini.
bukan untuk mereka. tapi diri sendiri. iya, diri sendiri.

-ern-

 

No comments:

Post a Comment