Dipandang sebelah mata sudah jadi soal biasa. dinomor duakanpun mungkin seharusnya sudah tidak jadi masalah. tapi entahlah kadang rasanya hati diam diam kembali retak.
Bukankah selama ini usaha dan kerja keras itu membuahkan hasil? Bukankah sebagian dari angan angan itu telah tercapai?
Lalu, mengapa hal seperti ini terulang kembali? masih sama. tawa sinis. nada mengejek.
Ragu? maaf untuk itu. Hanya saja, jujur itu menyesakkan.
Saya benar benar sadar, namun masih memilih untuk bungkam.
diam. kecewa. setidaknya tangis belum sepenuhnya buncah.

